Sabtu, 08 Maret 2014
MAKSIAT Penyebab KEKALAHAN
Secara harfiyah, maksiat artinya durhaka atau tidak
patuh. Maksudnya adalah suatu perbuatan yang tidak mengikuti apa yang telah
digariskan Allah Swt. Lawan dari maksiat adalah taat. Salah satu konsekuensi
penting dari keimanan kepada Allah Swt adalah taat kepada segala perintah-Nya
dan meninggalkan segala larangan-Nya, baik dalam keadaan sendiri maupun bersama
orang lain, dalam situasi senang maupun susah, begitulah seterusnya.
Dalam perjuangan
menegakkan ajaran Islam, setiap pejuang harus selalu berada dalam ketaatan dan
tidak boleh melakukan hal-hal yang bernilai maksiat. Hal ini karena kemaksiatan
akan mengakibatkan penilaian dosa dari Allah Swt dan dosa akan menimbulkan
akibat yang sangat fatal, baik bagi individu maupun jamaah.
AKIBAT MAKSIAT.
Dosa yang merupakan kemaksiatan setidak-tidaknya
akan membawa empat akibat, tidak hanya di dunia ini tapi juga di akhirat nanti.
Empat akibat itu sangat penting kita pahami dan kita renungi agar dosa dan
kemaksiatan tidak kita anggap sepele, sekecil apapun kemaksiatan itu.
1. Menggelisahkan
Hati.
Ketenangan
hati merupakan sesuatu yang sangat diperlukan oleh manusia dalam menjalani
kehidupannya, apalagi bagi para pejuang di jalan Allah. Sebagai manusia,
kehidupan ini bisa dijalani dengan baik manakala ada ketenangan batin, namun
bila ketenangan jiwa tidak dimiliki, tentu saja kehidupan ini tidak bisa dijalani
dengan baik. Karena itu, sangat berbahaya bila pemimpin dan rakyatnya tidak
memiliki ketenangan jiwa disebabkan dosa yang dilakukannya. Hal ini karena dosa
memang dapat menggelisahkan hati pelakunya dan bisa berakibat pada
tindakan-tindakan yang mendatangkan perbuatan dosa berikutnya, Rasulullah
bersabda:
Dosa adalah sesuatu yang menggelisahkan dalam hati seseorang,
sedangkan ia tidak setuju kalau hal itu diketahui oleh orang lain. (HR. Ahmad)
2.
Terjadi Bencana Alam
Di dunia
ini seringkali terjadi bencana alam mulai dari kemarau yang terlalu panjang
hingga masyarakat kesulitan air, gunung meletus, gempa bumi, tanah longsor,
banjir, kebakaran, angin kencang dan sebagainya. Hal itu jangan kita anggap
sebagai peristiwa alam biasa. Karena pada hakikatnya bencana ada kaitannya
dengan dosa yang dilakukan oleh manusia sehingga Allah Swt menunjukkan
kemurkaan-Nya. Allah Swt berfirman,
Maka
masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka diantara mereka
ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan diantara mereka ada
yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan diantara mereka ada yang Kami
benamkan ke dalam bumi, dan diantara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan
Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang
menganiaya diri mereka sendiri. (Q.S. Al-Ankabut (29) : 40)
Terjadinya berbagai
bencana alam pada hakikatnya adalah untuk mengingatkan manusia agar menyadari
kesalahannya sehingga mereka mau kembali ke jalan Allah yang benar. Allah Swt
berfirman,
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena
perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari
(akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS Ar-Rum (30) : 41)
3.
Pertentangan Antar Manusia ( adanya konflik ).
Dosa yang dilakukan
oleh manusia ternyata bisa menimbulkan konflik di antara sesama mereka. Bahkan
hingga terjadi tindakan-tindakan yang ganas, antar satu dengan lainnya, sesuatu
yang semula tidak kita duga sama sekali. Hal ini karena orang yang berbuat dosa
tidak mau mengakui kesalahannya, meskipun tahu bahwa ia telah berbuat salah.
Maka orang yang dianggap telah berbuat salah dan dosa akan dipermasalahkan
sehingga terjadilah konflik yang tidak sedikit melahirkan tindakan-tindakan
yang sadis. Karena itu, bila di suatu negeri sering terjadi konflik, baik antar
masyarakat maupun para pemimpinnya, salah satu yang harus kita teliti adalah
dosa apa yang mereka lakukan sehingga mereka saling berselisih. Hal ini
terdapat di dalam firman-Nya,
Katakanlah: Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari
atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam
golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu
keganasan sebagian yang lain. Perhatikanlah, betapa kami mendatangkan
tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami (QS Al-An’am (6) : 65)
Dalam kehidupan berjamaah, bila di antara
anggota-anggotanya ada yang melakukan kemaksiatan, ini akan menimbulkan
pertentangan di antara mereka. Pertentangan yang bisa menimbulkan hilangnya
kekuatan jamaah itu karena ada perpecahan, Rasulullah Saw bersabda:
Demi yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, tiada dua orang saling
mengasihi lalu bertengkar dan berpisah kecuali karena akibat dosa yang
dilakukan oleh salah seorang dari keduanya (HR. Ad Dailami)
4.
Terhambat Untuk Bisa Masuk Surga.
Dalam rangkaian
peristiwa pada hari kiamat, ada saat di mana manusia akan menunggu keputusan
Allah Swt, apakah ia akan dimasukkan ke dalam surga atau ke neraka. Orang yang
banyak beramal shaleh dengan membawa pahala yang banyak, akan tenang-tenang saja menghadapi situasi
itu. Bahkan dari raut wajahnya nampak kegembiraan karena ia yakin akan
keputusan Allah yang menggembirakan dirinya, yakni dimasukkan ke dalam surga.
Tapi bagi orang yang berbuat dosa dalam hidupnya di dunia, apalagi dosa-dosa
besar yang dibawanya, maka ia sangat murung dan takut dalam menghadapi
keputusan Allah terhadap dirinya. Apalagi memang tidak mungkin rasanya bila ia
masuk ke dalam surga karena dalam kehidupan yang dijalaninya, ia selalu
berpaling dari nilai-nilai yang terkandung di dalam Al-Qur’an, Allah Swt
berfirman,
Barang siapa berpaling dari Al-Qur’an, maka
sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat, mereka kekal di
dalam keadaan itu. Dan amat buruklah dosa itu sebagai beban bagi mereka di hari
kiamat, (yaitu) di hari (yang waktu itu) ditiup sangkakala dan Kami akan mengumpulkan pada hari itu
orang-orang yang berdosa dengan muka yang biru muram (QS Taha (20) : 100-102).
Hal
itu dapat itu terjadi, pada sebuah negeri yang dapat dikatakan sebagai negeri
yang penuh dosa Sehingga tidak mungkin bisa dicapai kebahagiaan dan ketenangan
hidup di dalamnya. Bahkan di dalam hadits, Rasulullah Saw memastikan orang yang
bermaksiat kepada Allah Swt dan mati dalam kemaksiatan tidak akan bisa masuk ke
dalam surga, Rasulullah Saw bersabda:
Semua umatku
akan masuk surga, kecuali yang tidak mau. Sahabat bertanya, “Siapa yang tidak
mau Ya Rasulullah?”. Rasul menjawab, “Barang siapa yang taat kepadaku ia masuk
surga dan siapa yang durhaka kepadaku ia
termasuk orang yang tidak mau”.
AKIBAT DALAM PERJUANGAN.
Objektifitas sejarah
dalam Islam telah menunjukkan kepada kita betapa kemaksiatan bisa menjadi
penyebab suatu kekalahan dalam perjuangan. Dari sekian banyak peristiwa, ada
dua peristiwa penting yang bisa kita jadikan rujukan untuk mengambil pelajaran.
Pertama, kekalahan dalam perang Uhud yang terjadi karena ketidakdisiplinan para
sahabat. Ketika itu, Rasulullah Saw belum menyatakan bahwa perang sudah selesai
meskipun musuh-musuh sudah meninggalkan arena perang karena mendapatkan
serangan yang dahsyat dari pasukan muslim. Tapi sebagian sahabat justru telah
melakukan pengumpulan harta rampasan perang (ghanimah), maka sahabat-sahabat
yang lainpun turut serta mengumpulkan harta itu, termasuk pasukan yang di atas
bukit. Melihat hal itu, sisa-sisa tentara kafir melakukan konsolidasi dan
mereka naik ke atas bukit lalu melakukan serangan yang bertubi-tubi hingga para
sahabat kocar-kacir, bahkan 70 orang sahabat menjadi syahid dan Rasulullah Saw
sendiri terperosok ke dalam lubang, mengalami luka dan giginya sampai patah.
Kedua, kekalahan dalam perang Hunain meskipun kaum muslimin berjumlah
sangat banyak, yakni 12.000 pasukan, sedangkan pasukan kafir hanya 4000 orang.
Hal ini terjadi karena adanya perasaan sombong dan menganggap enteng lawan
karena jumlah pasukan yang banyak. Hal ini menyebabkan jumlah pasukan Islam
menjadi sedikit dan yang sedikit itulah yang kemudian menunjukkan kesungguhan
sehingga berhasil mengalahkan musuh.
Dari dua contoh ini,
menjadi jelas bagi kita bahwasanya kemaksiatan atau perbuatan dosa akan
memberikan dampak buruk bagi diri kita karena kemaksiatan hanya
akan membuat Allah menjadi murka, bahkan sangat besar kemurkaan-Nya sehingga
sulit memberikan kemenangan kepada kaum muslimin.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ - والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Memakmurkan MASJID
Menjadi penduduk
Indonesia, yang merupakan sebuah negeri muslim terbesar merupakan nikmat yang
perlu kita syukuri. Di negeri ini, kita sebagai muslim bisa melakukan ibadah dengan mudah. Cobalah kita bayangkan
jikalau kita hidup di negeri yang muslimnya masih minoritas. Kita mungkin akan
merasakan kesulitan yang luar biasa untuk hanya melaksanakan ibadah, seperti
halnya sholat jumat secara berjamaah.
Jikalau kita melihat
saudara muslim kita di salah satu bagian Inggris tepatnya di Bridgford Barat,
disana saudara kita sangat kesulitan mencari lahan kosong untuk mendirikan
masjid. Selama bertahun-tahun mereka harus pergi ke kota lain untuk bisa shalat
Jum'at. Bahkan adapula sebagian dari mereka yang menggunakan garasi rumah
sebagai masjid.
Demikian pula di Perancis. Karena kekurangan masjid, saudara-saudara muslim kita disana terpaksa shalat Jum'at di Jalan Raya.
Patut kita syukuri bahwa di Indonesia terdapat sangat banyak masjid. Sampai akhir 2011 saja masjid di Indonesia tercatat sebanyak 900.000 . Hal ini merupakan sebuah angka yang cukup fantastis sekaligus membuat miris.
Mengapa miris? Karena ternyata banyak masjid yang tidak makmur. Masjid saat ini hanya digunakan sebagai tempat shalat fardhu, itupun sepi dari jama'ah.
Maka tugas kita hari ini bukan lagi memperbagus fisik masjid. Apalagi membangun masjid baru yang megah. Tugas kita saat ini adalah memakmurkan masjid
Demikian pula di Perancis. Karena kekurangan masjid, saudara-saudara muslim kita disana terpaksa shalat Jum'at di Jalan Raya.
Patut kita syukuri bahwa di Indonesia terdapat sangat banyak masjid. Sampai akhir 2011 saja masjid di Indonesia tercatat sebanyak 900.000 . Hal ini merupakan sebuah angka yang cukup fantastis sekaligus membuat miris.
Mengapa miris? Karena ternyata banyak masjid yang tidak makmur. Masjid saat ini hanya digunakan sebagai tempat shalat fardhu, itupun sepi dari jama'ah.
Maka tugas kita hari ini bukan lagi memperbagus fisik masjid. Apalagi membangun masjid baru yang megah. Tugas kita saat ini adalah memakmurkan masjid
Kata “memakmurkan” berasal dari kata dasar "makmur". Kata itu merupakan serapan dari bahasa Arab ( عَمَرَ – يَعْمُرُ -عِمَارَةً ) yang memiliki banyak arti. Diantaranya adalah: membangun, memperbaiki, mendiami, menetapi, mengisi, menghidupkan, mengabdi, menghormati dan memelihara. Kata itu dipakai oleh Allah dalam firman-Nya yang juga menunjukkan keutamaan pemakmur masjid :
Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. At-Taubah : 18)
Dengan demikian, arti "memakmurkan masjid” adalah membangun, mendirikan dan memelihara masjid, menghormati dan menjaganya agar bersih dan suci, serta mengisi dan menghidupkannya dengan berbagai ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT.
Sejarah mencatat ada banyak fungsi dan peran masjid pada masa Rasulullah SAW, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Sebagai tempat ibadah (shalat, dzikir)
2. Sebagai tempat syuro (musyawarah) dan konsultasi
3. Sebagai tempat pendidikan
4. Sebagai tempat latihan militer dan persiapan alat-alatnya
5. Sebagai tempat pengobatan para korban perang
6. Sebagai tempat pengadilan dan mendamaikan sengketa
7. Sebagai tempat santunan sosial
8. Masjid digunakan sebagai Aula dan tempat menerima tamu
9. Sebagai tempat menahan tawanan
10. Sebagai pusat penerangan dan informasi serta pembelaan agama
Berkaca dari definisi memakmurkan masjid dan sejarah Nabi, maka setiap bentuk ketaatan kepada Allah bisa digolongkan sebagai usaha memakmurkan masjid. Adapun ketaatan tersebut dapat berupa :
Pertama, mendirikan dan membangun masjid
Membangun masjid adalah amal pertama memakmurkan masjid. Karena tanpa adanya masjid, bagaimana mungkin kita dapat memakmurkannya?
Barangsiapa membangun masjid –karena mengharap wajah Allah- maka Allah akan membangunkan untuknya yang semisalnya di surga. (HR. Al-Bukhari)
Memperbaiki masjid juga termasuk upaya memakmurkan yang akan diganjar oleh Allah SWT dengan dibangunkan rumah oleh Allah di surga, dengan syarat asalkan ikhlas.
Barangsiapa membangun sebuah masjid karena Allah walau seukuran sarang burung atau lebih kecil dari itu, maka Allah akan membangunkan untuknya rumah di dalam syurga.”(HR. Ibnu Majah)
Kedua, membersihkan dan mensucikan masjid, serta memberinya wewangian
Dari Aisyah, ia berkata, "Rasulullah memerintahkan untuk membangun masjid-masjid di perkampungan-perkampungan, (lalu) dibersihkan dan diberi wewangian." (HR. Abu Daud)
Ketiga, mendirikan shalat jama'ah di masjid
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
Shalat jama'ah lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada shalat sendirian (HR. Muslim)
Keempat, memperbanyak dzikrullah dan tilawah Qur'an di masjidRasulullah SAW bersabda,
Sesungguhya masjid-masjid ini tidak pantas digunakan untuk tempat kencing dan berak , tetapi hanyasanya ia (dibangun) untuk dzikrullah, shalat dan membaca al-Qur’an. (HR. Muslim)
Kelima, memakmurkan masjid dengan taklim, halaqah, dan majlis ilmu lainnya
Rasulullah SAW bersabda,
…dan tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid), untuk membaca Kitabullah (al-Qur’an) dan mempelajarinya di antara mereka melainkan akan turun ketentraman kepada mereka, rahmat akan menyelimuti mereka, para malaikat menaungi mereka dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan para malaikat di sisi-Nya…(HR. Muslim)
Demikian lima diantara bentuk ketaaatan dalam memakmurkan masjid, semoga Allah SWT memudahkan kita menjadi hamba-hambaNya yang memakmurkan masjidNya.
UJIAN & COBAAN
Bismillahirrohmanirrohim ....
“ Maha suci Allah yang di tangan-Nya lah segala kerajaan, dan Dia Maha
Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji
kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi
Maha Pengampun ” (QS Al Mulk : 1-2 )
Dalam ayat surat Al Mulk tersebut dapat kita ketahui bersama
bahwasanya Allah SWT telah menjadikan adanya kematian dan kehidupan di dalam
dunia ini, dengan tujuan untuk memberikan ujian dan cobaan kepada setiap
hamba-Nya, sehingga Allah SWT ingin melihat amal-amal terbaik apa saja yang
dilakukan oleh hamba-Nya.
Dan perlu diketahui bahwasanya ujian Allah SWT terhadap
orang yang beriman adalah keniscayaan. Adapun
tingkatan dari ujian Allah tersebut akan disesuaikan dengan kadar keimanan yang
dimiliki oleh masing-masing individu tersebut.
Hal ini senada dengan Hadits Rasulullah SAW sebagai berikut
:
Diriwayatkan dari Sa’ad Ibn Waqash, ia berkata, “ Wahai Rasullulah,
siapakan manusia yang paling banyak diuji ?” Rasulullah lalu menjawab, “ Para
nabi, lalu orang-orang yang sholeh dan seterusnya (sesuai dengan kadar keimanan
yang dimilikinya). Bila ia memiliki iman yang kuat, maka makin kuatlah ujian
yang harus dihadapinya. Bila keimanannya tipis, maka makin berkurang pulalah
ujian baginya. Ujian akan tetap menimpa seorang hamba di muka bumi ini walaupun
ia tidak memiliki dosa sedikitpun”
( HR Ahmad )
Layaknya realita kehidupan di dunia ini dimana seorang
pelajar sebelum menginjakkan kakinya di tingkat pendidikan yang lebih tinggi,
maka ia pun harus melewati ujian terlebih dahulu. Dimana dengan semakin
tingginya tingkat pendidikan yang dilalui, maka ujian yang harus dihadapi
olehnya pun akan semakin sulit......
Hal ini sama halnya dengan ujian dan
cobaan yang Allah SWT berikan kepada orang - orang yang beriman, dimana Allah
SWT akan memberikan ujian dan cobaan sesuai dengan kadar keimanan yang
dimiliki. Semakin kuat keimanan yang dimiliki oleh seseorang, maka akan semakin
berat ujian dan cobaan yang Allah SWT berikan, begitu pula sebaliknya. Dan
perlu diketahui bersama bahwasanya Allah SWT tidak akan salah dalam memberikan
ujian dan cobaan kepada hamba-hambanya, karena Allah SWT tidak akan memberikan
suatu ujian ataupun cobaan yang melebihi batas kemampuan seorang hamba untuk
menanggungnya.
Perlu diketahui bersama bahwasanya ujian dan cobaan yang
Allah SWT berikan ada 2 macam. Yang pertama ujian dan cobaan dari Allah SWT
bisa merupakan suatu MIHNAH ( KESULITAN
), Sedangkan yang kedua, ujian dan cobaan dari Allah SWT bisa merupakan
suatu MINHAH ( KEMUDAHAN ).
Dimana
seorang hamba dituntut untuk selalu
BERSABAR jikalau mendapatkan KESULITAN dan dituntut untuk selalu BERSYUKUR jikalau mendapatkan suatu
KEMUDAHAN dari Allah SWT.
Adapun pada umumnya bersikap
SABAR terkadang lebih mudah daripada mensyukuri suatu kenikmatan.
Contohnya, Jika kita melihat fenomena di kehidupan sekarang ini, kita sering
sekali menemui orang – orang yang dengan mudahnya bersikap SABAR jikalau
diberikan mereka diberikan suatu musibah karena seringkali mereka langsung
melakukan introspeksi dan evaluasi sesaat setelah mereka mendapatkan suatu
musibah. Akan tetapi sebaliknya kita jarang sekali menemukan orang-orang yang
senantiasa BERSYUKUR terhadap segala
KENIKMATAN yang telah Allah SWT berikan, baik itu berupa rizki yang mereka
dapatkan ataupun kesenangan-kesenangan lain yang mereka dapatkan, karena
terkadang mereka terlena atas kenikmatan-kenikmatan tersebut. Padahal mereka
lupa bahwasanya baik itu KESULITAN maupun KEMUDAHAN, itu semua merupakan ujian
dari Allah SWT yang harus dipertanggungjawabkan kelak di kemudian hari.
Maka dengan demikian , bisa dikatakan bahwasanya ujian dengan KEMUDAHAN memiliki pahala yang
lebih besar dibandingkan ujian dengan KESULITAN.
Hal ini sama halnya yang diungkapkan oleh salah satu sahabat Nabi Umar bin Khattab yang
berkata bahwasanya :
“
Ketika kita diuji dengan KESULITAN, maka kita akan mampu bersabar atasnya.
Namun di saat kita diuji dengan KEMUDAHAN, umumnya kita tidak mampu bersabar
atas nya.”
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah ...
Begitulah sejatinya
alur kehidupan seorang manusia sebagai hamba Allah SWT, dimana Allah SWT akan selalu mempergilirkan ujian
bagi setiap hambanya, baik itu ujian berupa suatu KESULITAN ataupun ujian
dari Allah SWT yang berupa suatu KEMUDAHAN. Dan kita harus bersiap- siap apabila kelak di akhirat nanti Allah SWT
meminta pertanggungjawaban kita atas ujian dan cobaan tersebut, baik itu
berupa KESULITAN maupun berupa suatu KEMUDAHAN yang datang dari Allah SWT.
Langganan:
Postingan (Atom)