Sabtu, 08 Maret 2014

Memakmurkan MASJID

Menjadi penduduk Indonesia, yang merupakan sebuah negeri muslim terbesar merupakan nikmat yang perlu kita syukuri. Di negeri ini, kita sebagai muslim bisa melakukan  ibadah dengan mudah. Cobalah kita bayangkan jikalau kita hidup di negeri yang muslimnya masih minoritas. Kita mungkin akan merasakan kesulitan yang luar biasa untuk hanya melaksanakan ibadah, seperti halnya sholat jumat secara berjamaah.

Jikalau kita melihat saudara muslim kita di salah satu bagian Inggris tepatnya di Bridgford Barat, disana saudara kita sangat kesulitan mencari lahan kosong untuk mendirikan masjid. Selama bertahun-tahun mereka harus pergi ke kota lain untuk bisa shalat Jum'at. Bahkan adapula sebagian dari mereka yang menggunakan garasi rumah sebagai masjid.

Demikian pula di Perancis. Karena kekurangan masjid, saudara-saudara muslim kita disana terpaksa shalat Jum'at di Jalan Raya.

Patut kita syukuri bahwa di Indonesia terdapat sangat banyak masjid. Sampai akhir 2011 saja masjid di Indonesia tercatat sebanyak 900.000 . Hal ini merupakan sebuah angka yang cukup fantastis sekaligus membuat miris.

Mengapa miris? Karena ternyata banyak masjid yang tidak makmur. Masjid saat ini hanya digunakan sebagai tempat shalat fardhu, itupun sepi dari jama'ah.

Maka tugas kita hari ini bukan lagi memperbagus fisik masjid. Apalagi membangun masjid baru yang megah. Tugas kita saat ini adalah memakmurkan masjid

Kata “memakmurkan” berasal dari kata dasar "makmur". Kata itu merupakan serapan dari bahasa Arab
 ( عَمَرَيَعْمُرُ -عِمَارَةً )  yang memiliki banyak arti. Diantaranya adalah: membangun, memperbaiki, mendiami, menetapi, mengisi, menghidupkan, mengabdi, menghormati dan memelihara. Kata itu dipakai oleh Allah dalam firman-Nya yang juga menunjukkan keutamaan pemakmur masjid :

Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. At-Taubah : 18)

Dengan demikian, arti "memakmurkan masjid” adalah membangun, mendirikan dan memelihara masjid, menghormati dan menjaganya agar bersih dan suci, serta mengisi dan menghidupkannya dengan berbagai ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT.

Sejarah mencatat ada banyak fungsi dan peran masjid pada masa Rasulullah SAW,  diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Sebagai tempat ibadah (shalat, dzikir)
2. Sebagai tempat syuro (musyawarah) dan konsultasi
3. Sebagai tempat pendidikan
4. Sebagai tempat latihan militer dan persiapan alat-alatnya
5. Sebagai tempat pengobatan para korban perang
6. Sebagai tempat pengadilan dan mendamaikan sengketa
7. Sebagai tempat santunan sosial
8. Masjid digunakan sebagai Aula dan tempat menerima tamu
9. Sebagai tempat menahan tawanan
10. Sebagai pusat penerangan dan informasi serta pembelaan agama

Berkaca dari definisi memakmurkan masjid dan sejarah Nabi, maka setiap bentuk ketaatan kepada Allah bisa digolongkan sebagai usaha memakmurkan masjid. Adapun ketaatan tersebut dapat berupa :

Pertama, mendirikan dan membangun masjid
Membangun masjid adalah amal pertama memakmurkan masjid. Karena tanpa adanya masjid, bagaimana mungkin kita dapat memakmurkannya?

Barangsiapa membangun masjid –karena mengharap wajah Allah- maka Allah akan membangunkan untuknya yang semisalnya di surga. (HR. Al-Bukhari)

Memperbaiki masjid juga termasuk upaya memakmurkan yang akan diganjar oleh Allah SWT dengan dibangunkan rumah oleh Allah di surga, dengan syarat asalkan ikhlas.

Barangsiapa membangun sebuah masjid karena Allah walau seukuran sarang burung atau lebih kecil dari itu, maka Allah akan membangunkan untuknya rumah di dalam syurga.”(HR. Ibnu Majah)

Kedua, membersihkan dan mensucikan masjid, serta memberinya wewangian

Dari Aisyah, ia berkata, "Rasulullah memerintahkan untuk membangun masjid-masjid di perkampungan-perkampungan, (lalu) dibersihkan dan diberi wewangian." (HR. Abu Daud)

Ketiga, mendirikan shalat jama'ah di masjid
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

Shalat jama'ah lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada shalat sendirian (HR. Muslim)

Keempat, memperbanyak dzikrullah dan tilawah Qur'an di masjid
Rasulullah SAW bersabda,

Sesungguhya masjid-masjid ini tidak pantas digunakan untuk tempat kencing dan berak , tetapi hanyasanya ia (dibangun) untuk dzikrullah, shalat dan membaca al-Qur’an. (HR. Muslim)

Kelima, memakmurkan masjid dengan taklim, halaqah, dan majlis ilmu lainnya
Rasulullah SAW bersabda,


…dan tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid), untuk membaca Kitabullah (al-Qur’an) dan mempelajarinya di antara mereka melainkan akan turun ketentraman kepada mereka, rahmat akan menyelimuti mereka, para malaikat menaungi mereka dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan para malaikat di sisi-Nya…(HR. Muslim)

Demikian lima diantara bentuk ketaaatan dalam memakmurkan masjid, semoga Allah SWT memudahkan kita menjadi hamba-hambaNya yang memakmurkan masjidNya.

UJIAN & COBAAN

Bismillahirrohmanirrohim ....

“ Maha suci Allah yang di tangan-Nya lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun ” (QS Al Mulk : 1-2 )

Dalam ayat surat Al Mulk tersebut dapat kita ketahui bersama bahwasanya Allah SWT telah menjadikan adanya kematian dan kehidupan di dalam dunia ini, dengan tujuan untuk memberikan ujian dan cobaan kepada setiap hamba-Nya, sehingga Allah SWT ingin melihat amal-amal terbaik apa saja yang dilakukan oleh hamba-Nya.

Dan perlu diketahui bahwasanya ujian Allah SWT terhadap orang yang beriman adalah keniscayaan. Adapun tingkatan dari ujian Allah tersebut akan disesuaikan dengan kadar keimanan yang dimiliki oleh masing-masing individu tersebut.

Hal ini senada dengan Hadits Rasulullah SAW sebagai berikut :

Diriwayatkan dari Sa’ad Ibn Waqash, ia berkata, “ Wahai Rasullulah, siapakan manusia yang paling banyak diuji ?” Rasulullah lalu menjawab, “ Para nabi, lalu orang-orang yang sholeh dan seterusnya (sesuai dengan kadar keimanan yang dimilikinya). Bila ia memiliki iman yang kuat, maka makin kuatlah ujian yang harus dihadapinya. Bila keimanannya tipis, maka makin berkurang pulalah ujian baginya. Ujian akan tetap menimpa seorang hamba di muka bumi ini walaupun ia tidak memiliki dosa sedikitpun” ( HR Ahmad )

Layaknya realita kehidupan di dunia ini dimana seorang pelajar sebelum menginjakkan kakinya di tingkat pendidikan yang lebih tinggi, maka ia pun harus melewati ujian terlebih dahulu. Dimana dengan semakin tingginya tingkat pendidikan yang dilalui, maka ujian yang harus dihadapi olehnya pun akan semakin sulit...... 

Hal ini sama halnya dengan ujian dan cobaan yang Allah SWT berikan kepada orang - orang yang beriman, dimana Allah SWT akan memberikan ujian dan cobaan sesuai dengan kadar keimanan yang dimiliki. Semakin kuat keimanan yang dimiliki oleh seseorang, maka akan semakin berat ujian dan cobaan yang Allah SWT berikan, begitu pula sebaliknya. Dan perlu diketahui bersama bahwasanya Allah SWT tidak akan salah dalam memberikan ujian dan cobaan kepada hamba-hambanya, karena Allah SWT tidak akan memberikan suatu ujian ataupun cobaan yang melebihi batas kemampuan seorang hamba untuk menanggungnya.

Perlu diketahui bersama bahwasanya ujian dan cobaan yang Allah SWT berikan ada 2 macam. Yang pertama ujian dan cobaan dari Allah SWT bisa merupakan suatu MIHNAH ( KESULITAN ), Sedangkan yang kedua, ujian dan cobaan dari Allah SWT bisa merupakan suatu MINHAH ( KEMUDAHAN )

Dimana seorang hamba dituntut untuk selalu BERSABAR jikalau mendapatkan KESULITAN dan dituntut untuk selalu BERSYUKUR jikalau mendapatkan suatu KEMUDAHAN dari Allah SWT.      

Adapun pada umumnya bersikap SABAR terkadang lebih mudah daripada mensyukuri suatu kenikmatan. Contohnya, Jika kita melihat fenomena di kehidupan sekarang ini, kita sering sekali menemui orang – orang yang dengan mudahnya bersikap SABAR jikalau diberikan mereka diberikan suatu musibah karena seringkali mereka langsung melakukan introspeksi dan evaluasi sesaat setelah mereka mendapatkan suatu musibah. Akan tetapi sebaliknya kita jarang sekali menemukan orang-orang yang senantiasa BERSYUKUR  terhadap segala KENIKMATAN yang telah Allah SWT berikan, baik itu berupa rizki yang mereka dapatkan ataupun kesenangan-kesenangan lain yang mereka dapatkan, karena terkadang mereka terlena atas kenikmatan-kenikmatan tersebut. Padahal mereka lupa bahwasanya baik itu KESULITAN maupun KEMUDAHAN, itu semua merupakan ujian dari Allah SWT yang harus dipertanggungjawabkan kelak di kemudian hari.

Maka dengan demikian , bisa dikatakan bahwasanya ujian dengan KEMUDAHAN memiliki pahala yang lebih besar dibandingkan ujian dengan KESULITAN.

Hal ini sama halnya yang diungkapkan oleh salah satu sahabat Nabi Umar bin Khattab yang berkata bahwasanya :

 “ Ketika kita diuji dengan KESULITAN, maka kita akan mampu bersabar atasnya. Namun di saat kita diuji dengan KEMUDAHAN, umumnya kita tidak mampu bersabar atas nya.”
Maasyiral Muslimin rahimakumullah ...

Begitulah sejatinya alur kehidupan seorang manusia sebagai hamba Allah SWT, dimana Allah SWT akan selalu mempergilirkan ujian bagi setiap hambanya, baik itu ujian berupa suatu KESULITAN ataupun ujian dari Allah SWT yang berupa suatu KEMUDAHAN. Dan kita harus bersiap- siap apabila kelak di akhirat nanti Allah SWT meminta pertanggungjawaban kita atas ujian dan cobaan tersebut, baik itu berupa KESULITAN maupun berupa suatu KEMUDAHAN yang datang dari Allah SWT. 


Kepahlawanan dalam ISLAM


Sejarah perkembangan dakwah Islam dihiasi dengan cerita-cerita kepahlawanan para pengemban dakwah Islam dari masa ke masa dan dari generasi ke generasi. Sebuah kisah yang di penuhi dengan bait-bait perjuangan dan pengorbanan. Perjuangan yang ditujukan hanya untuk mendapatkan keridhaan dari Sang Pencipta serta pengorbanan yang tiada berbatas yang dilandasi atas dasar cinta kepada Tuhan, Agama serta Rasulullah saw.

Mereka adalah pahlawan-pahlawan Islam yang karena perjuangan merekalah Islam dapat menyebar luas ke setiap sudut penjuru dunia ini. Serta berkat kegigihan mereka dalam mendakwahkan agama ini, kemurnian agama Islam dapat terjaga sampai detik ini.

Kisah perjuangan para pahlawan Islam tidak melulu tentang kesenangan dan kemewahan hidup yang mereka lakukan, karena itu bukanlah karakteristik dari jalan dakwah yang mereka lalui sebagai jalan menuju proses kepahlawanan.  Seperti apa yang sudah disampaikan oleh Al Ustadz Musthafa Masyhur dalam bukunya “Jalan Dakwah” menjelaskan bahwa salah satu karakteristik dari Jalan dakwah adalah jalan yang dipenuhi dengan ujian serta cobaan. Bahkan seringkali ujian serta cobaan yang mereka alami berupa penyiksaan baik secara fisik maupun mental yang dilakukan oleh musuh-musuh Allah swt. Sehingga tak jarang mereka harus gugur dalam kesyahidan kala menghadapi siksaan yang begitu berat dan tidak manusiawi.

Masih terukir jelas dalam benak kita tentang keteguhan dari keluarga Yasir bin Amir (Yasir Bin Amir, Sumayyah binti Khayyath serta anak mereka Ammar bin Yasir). Mereka adalah satu keluarga yang begitu teguh memegang agama mereka walaupun mendapatkan siksaan yang luar biasa dan mereka lebih memilih untuk mati dalam Islam ketimbang tetap hidup dalam kekafiran.  Serta banyak lagi kisah-kisah penyiksaan yang dialami oleh pahlawan-pahlawan Islam terutama di fase awal kemunculan agama ini di bumi mekah.

Kisah mengenai perjuangan para pahlawan Islam tidak hanya berkisar pada perjuangan mempertahankan aqidah tetapi juga perjuangan dalam melakukan ekspansi dakwah. Dalam sejarahnya muncul nama-nama seperti Khalid bin Walid, seorang panglima dan ahli strategi terbaik yang pernah dimiliki oleh agama ini. Ia selalu memenangi setiap perang yang dipimpinnya. Atau pada masa kekhalifahan ada nama seperti Shalahuddin al Ayyubi yang mampu merebut kota suci Jerusalem dari tangan pasukan salib yang telah menguasai kota tersebut selama kurang lebih 76 tahun. Atau sejarah juga telah mencatat nama seorang pemuda yaitu Muhammad Al-Fatih yang mampu memimpin pasukan untuk menaklukkan Konstantinopel. Sebuah kota yang telah di upayakan untuk dikuasai semenjak masa khalifah Umar bin Khaththab.

Dari sisi ekspansi dakwah Islam, kita juga punya para duta dakwah yang rela berada jauh dari kampung halaman mereka untuk menjamin tersampaikannya Islam ke setiap inchi bumi ini. Mereka lah pahlawan dengan jalan kepahlawanan menjadi da’i, duta dakwah agama ini. Bersedia untuk menempuh perjalanan jauh pergi ke tempat yang baru yang asing bagi mereka sendiri sehingga tak heran jika banyak para sahabat yang justru dimakamkan jauh dari tempat mereka dilahirkan.

Berbicara masalah kepahlawanan tidak hanya tentang perjuangan tetapi juga tentang pengorbanan. Para pahlawan Islam tersebut tidak hanya berjuang tetapi mereka juga berkorban demi hal yang sangat mereka cintai yaitu Allah swt, Agama dan Rasulullah saw. Karena perjuangan itu sangat dekat dengan pengorbanan. Orang yang berjuang untuk mendapatkan sesuatu maka akan ada hal lain yang akan ia korbankan untuk mendapatkan apa yang ia perjuangkan. Para pahlawan Islam telah berjuang dan berkorban dengan segala apa yang mereka miliki. Para pahlawan Islam telah berjuang dan berkorban dengan harta yang mereka miliki dan jiwa mereka sendiri untuk mendapatkan kemenangan dakwah serta mencapai kejayaan Islam.

Kita tidak akan ragu menyebut nama-nama seperti Abu Bakar ash shiddiq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan atau Abdurrahman bin Auf. Mereka adalah contoh pahlawan yang telah berjuang serta berkorban untuk kejayaan Islam. Pengorbanan mereka tidaklah sedikit. Umar bin Khaththab menyumbangkan separuh harta yang dia miliki untuk membiayai pasukan dalam peperangan. Abu bakar Ash shidiq menginfaqkan seluruh harta yang dimilikinya untuk keperluan perang. Serta Abdurrahman bin Auf meninggalkan seluruh harta yang ia miliki di kota mekah dan lebih memilih untuk berhijrah ke kota madinah. Itu semua mereka lakukan karena kecintaan yang begitu besar kepada Allah swt dan Rasul. Cinta yang kepada Allah swt dan Rasul telah mengalahkan cinta mereka kepada dunia dan seisinya sehingga dengan mudahnya mereka dapat melepaskan harta mereka untuk perjuangan di jalan Allah swt.

Kecintaan yang besar terhadap Allah swt dan Rasul jua lah yang membuat seorang pemuda parlente yang biasa hidup dengan gelimangan harta seperti Mush’ab bin Umair memilih untuk meninggalkan semua kemewahan dan kemudahan yang dimiliki untuk beralih kepada satu-satunya agama yang diridhai Allah swt yaitu Islam. Bukan sebuah pengorbanan yang kecil karena setelah memutuskan untuk hidup dalam Islam segala fasilitas dan kemewahan yang dulu ia rasakan tidak pernah lagi mush’ab rasakan. Tetapi kisah membanggakan mush’ab tidak berhenti sampai di situ. Ia adalah duta dakwah pertama dalam Islam yang dikirimkan untuk mempersiapkan kota Yatsrib atau madinah sebagai tempat untuk hijrah Rasul dan umat Islam lainnya dari kota mekah. Prestasi yang membanggakan ditorehkan oleh Mush’ab karena tidak sampai satu tahun kota madinah telah futuh dan siap menyambut kedatangan baginda Rasul dan kaum Muhajirin yang lainnya.

Dalam setiap fase sejarah Islam akan melahirkan para pahlawan yang berjuang untuk menjaga kemurnian agama. Di setiap perjalanannya akan ada pahlawan-pahlawan Islam yang hadir untuk menghancurkan makar-makar yang dibuat oleh musuh-musuh Allah swt. Di setiap masa akan ada pahlawan-pahlawan Islam yang akan memberikan “hukuman” dan menebar rasa takut kepada musuh-musuh Allah swt yang mencoba menghancurkan agama ini.

Pahlawan-pahlawan Islam itu adalah mereka yang berjuang dengan ikhlas hanya demi Allah swt. Pahlawan Islam adalah mereka yang rela melepaskan segala hasrat pribadi dan menggantinya dengan hasrat tunggal yaitu tercapainya kejayaan Islam dan mengembalikan izzah agama ini kepada tempatnya. Pahlawan Islam adalah mereka yang mampu mengorbankan harta dan jiwa mereka untuk ditukar dengan surga dan seisinya. Pahlawan-pahlawan Islam adalah orang-orang yang menjadikan Allah swt sebagai tujuan, Muhammad saw sebagai teladan, Al Qur’an sebagai pedoman hidup serta mati dijalan Allah sebagai cita-cita tertinggi.

Sebuah perenungan untuk kita semua. Apakah kita termasuk dalam barisan pahlawan-pahlawan Islam? Barisan orang-orang yang berjuang untuk kejayaan Islam. Barisan orang-orang yang lebih mencintai Allah swt, agama dan Rasulullah saw ketimbang dunia dan seisinya. Barisan orang-orang yang teguh dan kokoh keimanannya. Barisan orang-orang yang rela mengorbankan harta dan jiwanya dijalan Allah swt. Besar harapan kita agar termasuk dalam barisan orang-orang di atas. Karena merekalah orang-orang yang insya Allah swt mendapatkan “tiket” masuk surganya Allah swt. Semoga kita menjadi pahlawan-pahlawan Islam yang berjuang demi kejayaan Islam.

Semoga kita menjadi pahlawan-pahlawan Islam yang bersedia melepaskan hasrat pribadinya dan menggantinya dengan hasrat untuk menyebarkan ajaran Islam sampai ke setiap inchi bumi. Semoga kita menjadi pahlawan-pahlawan Islam yang lebih mencintai Allah swt, Agama dan Rasulullah saw daripada dunia dan seisinya. Semoga kita menjadi pahlawan-pahlawan Islam yang mengorbankan harta dan jiwa hanya untuk mendapatkan ridha dari Allah swt. Semoga kita menjadi pahlawan-pahlawan Islam yang berjuang bukan karena ingin disebut pahlawan.



Karakteristik ISLAM


     Dimana hal ini merupakan keunggulan-keunggulan kompetitif yang membedakan antara agama Islam dengan agama yang lainnya.

     Karakteristik / keunggulan ini tidak dimiliki oleh agama lain sehingga dengan mengetahui serta memahami karakteristik dari Islam ini, secara tidak langsung dapat menguatkan kembali keimanan serta ketakwaan yang kita miliki saat ini.

Karakteristik Islam yang Pertama adalah ....  Islam adalah agama yang Robbaniyah

      Yang berarti agama Islam ini merupakan agama yang bersumber dari Rabb ( yaitu Allah SWT)
Seperti yang kita ketahui bersama bahwasanya Islam diturunkan oleh Allah SWT dengan perantara Al Quran sebagai kitab sucinya.

Hal ini difirmankan Allah SWT di dalam surah Al Baqarah : 2

“ Kitab ( Al Quran ) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”

Dari ayat tersebut dapat kita ketahui bahwasanya  ... Kita selaku umat muslim harus mayakini Al Quran sebagai sumber kebenaran yang mutlak dimana tidak ada lagi keraguan di dalamnya. Selain daripada itu, kita pun harus menjadikan Alquran sebagai petunjuk hidup bagi kita selaku hamba Allah agar tetap berada di jalan yang lurus.

Petunjuk yang dimaksud disini adalah Al Quran dapat dijadikan sebagai pedoman bagi umat manusia, seperti halnya : pedoman dalam melaksanakan ibadah, pedoman dalam melakukan aktifitas sehari-hari, ataupun sebagai pedoman untuk menentukan hukum dalam kehidupan sehari-hari.  

Dengan tidak adanya keraguan di dalam Al Quran, maka memberikan konsekuensi kepada kita semua bahwasanya Al Quran tidak bisa diperdebatkan lagi karena Al Quran merupakan sumber referensi yang valid 100% kebenarannya. Lain halnya dengan kitab-kitab suci agama lain dimana kitab-kitab suci selain Al Quran telah banyak terkontaminasi oleh tangan-tangan manusia sehingga belum bisa dijamin 100% kebenarannya. Hal inilah yang membedakan kitab suci Al Quran dengan kitab-kitab suci agama lainnya.

Kalau kita melihat realita kehidupan yang saat ini sedang terjadi ,.. dapat kita ketahui bersama bahwasanya umat Islam saat ini banyak mengalami kemunduran.
Kemunduran-kemunduran yang dialami oleh umat muslim saat  ini sebenarnya disebabkan oleh umat Islam itu sendiri, .. dimana saat ini umat Islam belum mau mengimplementasikan Al Quran dengan benar, padahal Allah SWT sejatinya telah memberikan solusi-solusinya di dalam kitab suci Al Quran.

Oleh sebab itu .. saat ini yang sebenarnya dibutuhkan oleh umat muslim agar menjadi maju dan tidak mengalami kemunduran adalah bagaimana kita selaku umat muslim mampu memahami kalam-kalam Ilahi yang terdapat di dalam Al Quran,.. yang kemudian dapat diimplementasikan di dalam kehidupan nyata sehari-hari .

Jika kita tinjau kembali, saat ini banyak sekali hasil penelitian dari para ilmuwan yang menyatakan akan kebenaran ayat-ayat dari kitab suci Al Quran. Hal inilah yang harus kita jadikan sebagai bahan renungan bersama bahwasanya kitab suci Al Quran memiliki kebenaran yang mutlak yang bersumber dari Rabb semesta alam, yaitu Allah SWT.

Selanjutnya karakteristik Islam yang kedua adalah .... Islam adalah Agama yang Syumuliyah (Menyeluruh)

Allah SWT berfirman di dalam surah Al Baqarah : 208

“ Wahai orang-orang yang beriman ! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah syaitan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.”

Dari Ayat tersebut dapat kita ketahui bersama bahwasanya Allah SWT menyuruh kita untuk menjalankan ajaran agama Islam secara keseluruhan, tidak dengan secara parsial atau sebagian.

Dengan menjalankan agama Islam secara keseluruhan, berarti kita telah mengikhlaskan diri kita untuk mengabdi kepada Allah SWT secara keseluruhan pula. Sehingga sudah seyogyanya segala amal perbuatan yang kita lakukan harus berorientasi untuk mendapatkan ridho Allah SWT.

Agama Islam merupakan agama yang mencakup seluruh dimensi, baik itu Dimensi Waktu, Dimensi Demografi, Dimensi Geografi,  serta Dimensi Kehidupan.
·       
          Terkait dengan Dimensi Waktu ... dapat kita ketahui bersama bahwasanya Islam menembus batas waktu. Di mulai dari zaman Nabi Adam Alaihi Salam sampai dengan zaman Nabi Muhammad SAW serta dilanjutkan hingga saat ini dakwah Islam masih masih terus berlangsung.
·        
     Adapun untuk Dimensi Demografi ... dapat kita ketahui bersama bahwasanya Islam diturunkan oleh Allah SWT dan  diperuntukkan untuk seluruh umat manusia .... Islam tidak hanya diturunkan oleh Allah untuk  satu kaum atau suku tertentu saja, akan tetapi Islam diturunkan untuk seluruh umat manusia.
·    
     Sedangkan pada Dimensi Geografis .... kita ketahui bersama bahwasanya Islam menyebar ke seluruh wilayah tanpa ada pengecualian.

Jikalau kita memperhatikan dan mengkaji kembali .. Sesungguhnya Allah SWT telah tepat menjadikan Tanah Arab sebagai pusat dari penyebaran Islam, karena jikalau kita lihat dari sisi geografis , Tanah Arab tepat berada di lokasi yang strategis untuk penyebaran dakwah Islam ... dimana Tanah Arab berada di antara 3 benua, yaitu : benua Eropa, benua Afrika dan Benua Asia.
Sehingga tidak mengherankan bahwasanya dahulu ketika masa kejayaan Islam berlangsung ... Islam pernah menguasai 2/3 daratan yang ada di dunia.

·          Sedangkan terkait dengan Dimensi Kehidupan .... disini Islam telah mengatur seluruh dimensi kehidupan yang ada pada kehidupan manusia, baik itu dari segi sosial, ekonomi, pendidikan, budaya, hukum, dan lain sebagainya.

Seluruh sendi dari dimensi kehidupan ini sesungguhnya telah diatur di dalam kitab suci Alquran, tinggal saat ini apakah kita mau mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Adapun karakteristik Islam yang terakhir adalah .... Islam adalah agama yang Insaniyah. Adapun yang dimaksud dengan Islam adalah agama yang Insaniyah disini adalah Islam merupakan agama yang berorientasi pada seluruh insan manusia

Allah SWT  berfirman di dalam surah Ar Rum : 30

 “ Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); sesuai fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”  

Dari ayat tersebut dapat kita ketahui bersama bahwasanya Agama Islam sesungguhnya telah sesuai dengan fitrah manusia, sehingga jikalau ajaran-ajaran agama Islam ini diaplikasikan  di dalam kehidupan nyata maka dapat dipastikan tidak akan timbul kekacauan di mana-mana.

Itulah tadi 3 karakteristik Islam yang menjadikan Agama Islam ini berbeda dengan Agama yang lainnya .. Islam adalah Agama yang Robbaniyah, Islam adalah Agama yang Syumuliyah, dan Islam adalah 
Agama yang Insaniyah.

 Wallahu ‘alam bishowab